Oleh : Mustafa Mura
Senja diam-diam pamit
langit masih meneteskan air mata
malam pelan-pelan menelan merah luka bumi nestapa
sunyi
lengang
gembala masih menangisi domba satu-satunya yang hilang
tapi jauh dijarak tak tertempuh
ada gemerlap pesta dansa
“hmm, lembur lagi”, gumam sang malaikat
pencatat dosa
dari balik bilik bambu surau tua, kiyai renta
sedang membahas dosa dan pahala
diruang karaoke hotel bintang lima, seorang pejabat
sedang membayangkan komisi ganti rugi
bersama biduan sewaannya
disudut malam aku membayangkan perih hati gembala
berapalah harga seekor domba
dibandingkan mobil dinas seorang walikota
malam hanya saksi
malam hanya sepi
Duri, 23 Januari 2009
Senja diam-diam pamit
langit masih meneteskan air mata
malam pelan-pelan menelan merah luka bumi nestapa
sunyi
lengang
gembala masih menangisi domba satu-satunya yang hilang
tapi jauh dijarak tak tertempuh
ada gemerlap pesta dansa
“hmm, lembur lagi”, gumam sang malaikat
pencatat dosa
dari balik bilik bambu surau tua, kiyai renta
sedang membahas dosa dan pahala
diruang karaoke hotel bintang lima, seorang pejabat
sedang membayangkan komisi ganti rugi
bersama biduan sewaannya
disudut malam aku membayangkan perih hati gembala
berapalah harga seekor domba
dibandingkan mobil dinas seorang walikota
malam hanya saksi
malam hanya sepi
Duri, 23 Januari 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar